Istana Cipanas

Istana Presiden Cipanas : Istana ini dibangun pada tahun 1740 oleh Van Heuts.

Istana Cipanas

Kompleks Istana Cipanas berdiri diatas tanah seluas 26 hektar, terdiri atas gedung induk dan tujuh buah paviliun, dilengkapi sarana olahraga.

Pasar Cipanas

Pasar Cipanas, Cianjur, Jabar, layak menjadi percontohan pasar sehat di Indonesia.

Gunung Gede

Gunung Gede merupakan sebuah gunung yang berada di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede Pangrango, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia.

BUMI AKI

Rumah makan dengan Fasilitas Lesehan, permainan anak-anak, mushola, parkir luas. Berbagai menu masakan khas Sunda bisa Anda pilih sesuai selera: Gurame (Bakar / Goreng), Sate Kambing / Ayam, Ayam Kampaung (Bakar / Goreng), Sop Buntut Goreng, Karedok, Gado-gado, Cah Kangkung, Tongseng, Sayur Asem, Nasi Goreng, Aneka Juice, Es Kelapa, Jeruk, Dan lain-lain. www.bumiaki.com

Tuesday, January 12, 2010

Gunung Ceremai (3.078 mdpl)

Menjamah puncak tertinggi di Jawa Barat
Secara administratif termasuk dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Posisi geografis puncaknya terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT, dengan ketinggian 3.078 mdpl di atas permukaan laut. Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 mdpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.

Pendakian jalur timur : Desa Linggarjati

Akses kelokasi (data tahun 2009) :

Jakarta
(terminal Pulo Gadung/Kp. Rambutan/Lebak Bulus) – Kuningan (Via Cilimus) : turun di Cilimus Rp. 40.000 (4 – 5 jam)
Cilimus – Desa Linggarjati : Angkot kuning Rp. 2.500 – RP. 4.000 (30 menit)

Pos Pendakian : Tiket Rp. 6.500/orang


Laporan Perjalanan

Hari 1

08.00 : Start pendakian

Dari Desa Linggarjati jalan lurus ngikutin jalan aspal menuju hutan pinus.

09.00 : Tiba di Pos Cibunar (750 mdpl)

Persediaan air sebaiknya disiapkan disini, karena setelah ini tidak ada mata air lagi. Disini kita menjumpai jalan bercabang, ke kiri menuju sumber mata air dan lurus menuju arah puncak. Kalau tidak bermalam di Desa Linggarjati, kita bisa berkemah di pos ini.

09.15 : Melanjutkan pergerakan ke Pos Leuweung Datar

09.45 : Tiba di Pos Leuweung Datar (1.285 mdpl), lanjut terus..

11.15 : Tiba di Pos Condang Amis (1.350 mdpl), lanjut terus..


12.20 : Tiba di Pos Kuburan Kuda (1.580 mdpl), Rest, makan siang

13.00 : Melanjutkan pergerakan ke Pos Pangalap

13.30 : Tiba di Pos Pangalap (1.790 mdpl)

Lanjut terus Tanjakan Binbin (1.920 mdpl), terus Tanjakan Seruni (2.080 mdpl) dan Bapa Tere (2.200 mdpl).

17.30 : Tiba di Pos Batu Lingga (2.400 mdpl), nge-camp.


Hari 2

08.30 : Start pergerakan

Melewati Sangga Buana 1 (2.545 mdpl) dan Sangga Buana 2 (2.665 mdpl)

10.00 : Tiba di Pengasinan (2.860 mdpl), lanjut terus menuju puncak



11.00 : Tiba di Puncak Ceremai/puncak Sunan Telaga/Sunan Cirebon (3.078 mdpl)
Dari puncak, terlihat kawah-kawah Gunung Ceremai dan bila cuaca cerah kita juga dapat menikmati panorama yang menarik ke arah kota Cirebon, Majalengka, Bandung, Laut Jawa, Gunung Slamet, dan gunung-gunung di Jawa Barat. Dari puncak ke arah kanan kita bisa menuju ke kawah belerang dengan waktu tempuh 30 menit. Untuk mengitari puncak dan kawah-kawahnya waktu yang dibutuhkan sekitar 2,5 jam.

14.00 : Start pergerakan turun, bablas terus sampe bawah..

19.30 : Tiba di Desa Linggarjati


Catatan :

Untuk manajemen perjalanan dan perbekalan, air kita sembunyikan di beberapa tempat/pos sebagai bekal turun gunung nanti, dan carrier bisa kita sembunyikan/simpan di pos yang mendekati puncak (Pos Sangga Buana atau Pos Pengasinan), jadi menuju ke puncak dengan hanya membawa beberapa perlengkapan yang penting saja.

Monday, January 11, 2010

Gn. Agung (3.142 mdpl)

Menapaki keagungan gunung Agung Via Pura Besakih
Garis Lintang 8° 342′ LS Garis Bujur 115° 508′ BT Lokasi Bali

Akses ke lokasi dari Jakarta (data tahun 2009) :
St. Jatinegara – St. Surabaya Pasar Turi
Kereta Gumarang
Berangkat : 18.12 WIB Tiba : 06.45 WIB Tarif : Rp. 140.000 – Rp. 180.000 (Bisnis)
Kereta Kertajaya
Berangkat : 16.27 WIB Tiba : 06.30 WIB Tarif : Rp. 43.500 (Ekonomi)

St. Surabaya Pasar Turi – St. Gubeng
Angguna (Angkutan Serba Guna)/Carter mobil Rp 30.000/mobil

St. Gubeng – St. Banyuwangi
Kereta Mutiara Timur
Berangkat : 09.15 WIB Tiba : 15.56 WIB Tarif : Rp. 60.000 – Rp. 75.000 (Bisnis)
Berangkat : 22.35 WIB Tiba : 04.57 WIB Tarif : Rp. 60.000 – Rp. 75.000 (Bisnis)
Kereta Sri Tanjung
Berangkat : 14.23 WIB Tiba : 22.22 WIB Tarif : Rp. 19.500 (Ekonomi)

St. Banyuwangi – Pelabuhan Ketapang : Jalan kaki aja (15 menit)
Pelabuhan Ketapang – Pelabuhan Gilimanuk (Bali) : Rp. 5.700 (45 menit)
Kapal Ferry ada 24 jam, berangkat setiap 1 jam sekali, sesampainya di Bali waktu akan maju 1 jam, karena ada perbedaan waktu (WIB & WITA)
Pelabuhan Gilimanuk – Terminal Kecil : Jalan kaki aja (15 menit)
Terminal Kecil – Terminal Ubung (Bali) : Elf L300 / Bus ¾ Rp. 15.000 (3 jam)
Disarankan mampir dulu silaturahmi ke Mapala Wanaprastha Dharma, Universitas Udayana
Terminal Ubung – Pura Besakih : Carter Angkot/Bemo Rp. 200.000/mobil (4 jam)
Pos Pendaftaran : Lapor ke Pos Polisi Besakih
Sejak Mei 2009 setiap pendakian gunung Agung lewat Pura Besakih harus memakai jasa pemandu/guide untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kecelakaan dengan tarif Rp. 300.000 – Rp. 350.000

Laporan perjalanan :
06.00 : Start pendakian dari Pos Polisi
Ngelewatin Pura Besakih, lanjut ke Pos Bale Bengong
12.00 : Makan siang (nasi bungkus), rest dijalur
12.30 : Ngelanjutin pergerakan
13.30 : Tiba di Pos Batu Tulis/Corri Agung (Summit Attack)
Peralatan ditinggal, bawa peralatan/perbekalan seperlunya. Warning : Perlengkapan yang ditinggal dipacking yg rapi, banyak monyetnya.
14.00 : Menuju puncak Gn. Agung (Puncak 1 – 2 – 3)
Jalur batu dan pasir, scrambling, tiarap kalo ada angin kenceng, lebar jalur kira-kira 1 meter-an yang dikiri-kanan nya jurang. Udah banyak yang jadi korbannya. Warning : Jalur Puncak 2 ke Puncak 3, jalur mengecil, suka ada angin kenceng tanpa aba-aba. DANGER AREA.

15.30 : Tiba di Puncak Gn. Agung
16.00 : Turun ke Pos Batu Tulis/Corri Agung
16.45 : Tiba di Pos Batu Tulis/Corri Agung
17.00 : Start turun, siap-siap headlamp
21.30 : Tiba di Pura Besakih
22.00 : Ngupi-ngupi di Pos Polisi Besakih

Yang dilarang baik pada saat melakukan persembahyangan maupun pendakian, antara lain:
1. Cuntaka (datang bulan atau ada anggota keluarga yang meninggal)
2. Membawa daging babi
3. Membawa daging sapi
4. Memakai perhiasan yang terbuat dari emas

St. Banyuwangi – St. Gubeng
Kereta Mutiara Timur
Berangkat : 09.00 WIB Tiba : 15.24 WIB Tarif : Rp. 60.000 – Rp. 75.000 (Bisnis)
Berangkat : 22.20 WIB Tiba : 04.53 WIB Tarif : Rp. 60.000 – Rp. 75.000 (Bisnis)
Kereta Sri Tanjung
Berangkat : 06.00 WIB Tiba : 14.32 WIB Tarif : Rp. 19.500 (Ekonomi)

St. Surabaya Pasar Turi – St. Jatinegara
Kereta Gumarang
Berangkat : 17.30 WIB Tiba : 05.53 WIB Tarif : Rp. 130.000 – Rp. 160.000 (Bisnis)
Kereta Kertajaya
Berangkat : 15.30 WIB Tiba : 05.46 WIB Tarif : Rp. 43.500 (Ekonomi)

Teks oleh : Apriyanti Lestari




Baca juga artikel pendakian yang lain :
1. Pendakian Gunung Karang (1.778 mdpl) - Banten
2. Pendakian Gunung Semeru (3.676 mdpl) - Malang
3. Pendakian Puncak Sejati Gn. Raung (3.344 mdpl) - Banyuwangi
4. Pendakian Gunung Kerinci (3.805 mdpl) - Jambi
5. Pendakian Gunung Leuser (3.119 mdpl) - Aceh Tenggara
6. Pendakian Gunung Rinjani (3.726 mdpl) - Lombok
7. Pendakian Gunung Ceremai (3.078 mdpl) - Kuningan

Sunday, January 10, 2010

Gunung Rinjani (3.726 mdpl)

Menggapai surganya para pendaki
Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani terletak di Pulau Lombok secara Geografis terletak antara 116°21'30" - 116°34'15" BT dan 8°18'18" - 8°32'19" LS merupakan daerah bergunung-gunung dengan ketinggian mulai 500 - 3726 mdpl (puncak rinjani). Gunung-gunung yang ada disekitar kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani diantaranya: Gunung Pelawangan (± 2.658 mdpl), Gunung Daya (± 2.914mdpl), Gunung Sangkareang (± 2.588 mdpl), Gunung Buah Mangge (± 2.895 mdpl) dan Gunung Kondo (±2.947 mdpl).

Akses ke Gn. Rinjani (Jalur Sembalun Lawang) dari Jakarta (data tahun 2009) :
St. Jatinegara – St. Surabaya Pasar Turi
Kereta Gumarang
Berangkat : 18.12 WIB Tiba : 06.45 WIB Tarif : Rp. 140.000 – Rp. 180.000 (Bisnis)
Kereta Kertajaya
Berangkat : 16.27 WIB Tiba : 06.30 WIB Tarif : Rp. 43.500 (Ekonomi)
St. Surabaya Pasar Turi – St. Gubeng
Angguna (Angkutan Serba Guna)/Carter mobil Rp 30.000/mobil (20 menit)
St. Gubeng – St. Banyuwangi
Kereta Mutiara Timur
Berangkat : 09.15 WIB Tiba : 15.56 WIB Tarif : Rp. 60.000 – Rp. 75.000 (Bisnis)
Berangkat : 22.35 WIB Tiba : 04.57 WIB Tarif : Rp. 60.000 – Rp. 75.000 (Bisnis)
Kereta Sri Tanjung
Berangkat : 14.23 WIB Tiba : 22.22 WIB Tarif : Rp. 19.500 (Ekonomi)
St. Banyuwangi – Pelabuhan Ketapang
Jalan kaki aja (15 menit)
Pelabuhan Ketapang – Pelabuhan Gilimanuk (Bali)
Harga tiket Rp. 5.700 (45 menit), Kapal Ferry ada 24 jam, berangkat setiap 1 jam sekali, sesampainya di Bali waktu akan maju 1 jam, karena ada perbedaan waktu (WIB & WITA)
Pelabuhan Gilimanuk – Terminal Kecil
Jalan kaki aja (15 menit)
Terminal Kecil – Terminal Ubung (Bali)
Elf L300 / Bus ¾ Rp. 15.000 (3 jam)
Terminal Ubung – Pelabuhan Padangbai (Bali)
Elf L300 Rp. 20.000 (1 jam)
Pelabuhan Padangbai – Pelabuhan Lembar (Lombok)
Harga tiket Rp. 31.000 (5 jam)
Pelabuhan Lembar – Terminal Mandalika, Mataram
Elf L300 Rp. 10.000 (1.5 jam)
Terminal Mandalika, Mataram – Terminal/Pasar Aikmal
Elf L300/ Bus ¾ Rp. 15.000 (2 jam)
Kendaraan yang melayani jalur Aikmal - Sembalun hanya sampai jam 12 siang saja kecuali carter
Aikmal – Sembalun Lawang
Elf L300 Rp 20.000 (3 jam) Biasanya carter/nunggu penuh
Pos Pendaftaran TNGR : Tiket Rp. 10.000 – Rp. 15.000


Laporan perjalanan :
Hari 1
13.30 : Start pendakian dari Pos TNGR Sembalun
Pendakian dimulai dari desa Sembalun lawang yang berada pada ketinggian (1.065 mdpl). Sepanjang jalur ini kita hanya melewati padang rumput, sesekali menyeberangi kali yang kering serta beberapa pohon cemara.
16.00 : Tiba di Pos I / Pos Pemantauan (1.432 mdpl)
Pos ini tidak ada sumber air, lanjut menuju Pos II.
17.00 : Tiba di Pos II / Pos Tengengean (1.523 mdpl)
Pos ini terletak di sebelah kiri jalan agak menjorok kedalam yang di apit bukit dan didepannya terdapat jembatan diatas sungai kering. Di pos ini terdapat sumber mata air dan sebuah toilet yang merupakan hasil sumbangan dari sebuah LSM asal New Zealand.


Hari 2

08.00 : Start pendakian dari Pos II (1.523 mdpl)
Kita akan bertemu sebuah persimpangan jalan yang memisahkan jalur ke bukit penyesalan (kanan) dan ke bukit penyiksaan/penderitaan (kiri). Saat ini jalur yang sering dipakai adalah bukit penyiksaan, karena jalur bukit penyesalan jembatannya sudah hancur dan jalan setapaknya sudah tidak begitu jelas.
09.00 : Tiba di Pos III / Pos Pada Balong (1.807 mdpl), lanjut ke Pelawangan Sembalun (2.708 mdpl)
Selanjutnya kita akan dihadapkan dengan tanjakan bukit sembilan, disebut demikian karena memang melewati sembilan bukit sebelum sampai di igir-igir punggungan. Selanjutnya belok kiri menuju ke Pelawangan.
14.00 : Tiba di Pelawangan Sembalun (2.708 mdpl)
Pos terakhir untuk mencapai puncak Rinjani, merupakan sebuah dataran yang cukup luas yang cukup untuk beberapa tenda. Dari sini terlihat jelas danau Segara Anakan dan gunung Baru Jari (2.376 mdpl). Di pos ini terdapat sumber air yang berupa pancuran. Warning : Hati-hati terhadap monyet didaerah ini, mereka sangat agresif untuk merebut makanan setiap pendaki yang lengah.
Rest, persiapan untuk pendakian ke puncak Rinjani.


Hari 3

02.00 : Start pendakian menuju puncak Rinjani
Perjalanan dari Pos Pelawangan Sembalun kepuncak mulai dihadapkan pada tanjakan-tanjakan yang curam dan berdebu sampai pada batas igir-igir kemudian berbelok kekiri mengikuti igir-igir punggungan yang berpasir lembut. Mendekati puncak tanjakan cukup terjal dengan medan batu krikil dan pasir (jalur leher angsa).
06.00 : Tiba di Puncak Rinjani (3.726 mdpl)


Pemandangan di sekitar puncak kita dapat melihat ke sebelah barat ada Gn. Agung di bali serta pelabuhan Lembar dan juga kearah bawahnya ada segara anakan beserta Gunung Baru Jari, sebelah utara kearah bawah kita bisa melihat kawah gunung Rinjani yang sudah tidak aktif lagi, ke arah timur samar-samar terlihat pegunungan Jayawijaya di Irian serta kepulauan Sumbawa.
Selepas jam 09.00 WITA, sebaiknya turun kembali ke Pelawangan karena angin akan sangat kencang bersamaan dengan semakin tingginya matahari.
08.00 : Turun ke Pelawangan Sembalun
09.30 : Tiba di Pelawangan Sembalun, Rest
12.00 : Menuju Segara Anakan
16.00 : Tiba di danau Segara Anak (2.024 mdpl)
Danau Segara Anak dipenuhi oleh ikan-ikan jenis Carper dan Mujair yang cukup besar, tidak ada salahnya kita bawa joran dari Jakarta. Masih di sekitar danau.. kita bisa melihat beberapa buah gua (Gua Susu) dengan sumber-sumber air belerang yang biasanya digunakan masyarakat sasak untuk mencuci senjata-senjata pusaka. Selain itu terdapat Air Kalak dalam bahasa setempat artinya air panas, membentuk kolam-kolam kecil yang mempunyai suhu yang berbeda-beda. Jika kita ingin berendam, tinggal pilih : suhu panas, hangat atau hangat kuku. Disekitar Segara Anak juga terdapat Gunung Baru Jari sebutan Suku Sasak yang artinya gunung baru jadi.
Warning : Hati-hati terhadap monyet dan babi.



Hari 4

09.00 : Pergerakan menuju Senaru
10.00 : Tiba di Batu Ceper (Ampun tanjakannya...)
15.00 : Tiba di Pelawangan Senaru (2.484 mdpl)
16.00 : Tiba di Pos III / Pos Mondokon Lolak (2.128 mdpl)
18.30 : Tiba di Pos II / Pos Montong Satas (1.622 mdpl) terdapat sumber mata air kecil
21.00 : Tiba di Pos I (1.021 mdpl) Nge-camp di warung


Hari 5

10.30 : Pergerakan ke Senaru (640 mdpl)
11.00 : Tiba di Senaru
11.30 : Pergerakan ke Pasar Anyar (Elf L300 Rp. 7.000)
12.00 : Tiba di Pasar Anyar, Bayan
13.00 : Menuju Mataram (Elf L300 / Bus ¾ Rp. 15.000 – Rp. 20.000)
16.00 : Tiba di Mataram, mampir silaturahmi ke Grahapala Rinjani, UNRAM.


St. Banyuwangi – St. Gubeng

Kereta Mutiara Timur
Berangkat : 09.00 WIB Tiba : 15.24 WIB Tarif : Rp. 60.000 – Rp. 75.000 (Bisnis)
Berangkat : 22.20 WIB Tiba : 04.53 WIB Tarif : Rp. 60.000 – Rp. 75.000 (Bisnis)
Kereta Sri Tanjung
Berangkat : 06.00 WIB Tiba : 14.32 WIB Tarif : Rp. 19.500 (Ekonomi)

St. Surabaya Pasar Turi – St. Jatinegara
Kereta Gumarang
Berangkat : 17.30 WIB Tiba : 05.53 WIB Tarif : Rp. 130.000 – Rp. 160.000 (Bisnis)
Kereta Kertajaya
Berangkat : 15.30 WIB Tiba : 05.46 WIB Tarif : Rp. 43.500 (Ekonomi)




Teks oleh : Apriyanti Lestari


Baca juga artikel pendakian yang lain :
1. Pendakian Gunung Karang (1.778 mdpl) - Banten
2. Pendakian Gunung Semeru (3.676 mdpl) - Malang
3. Pendakian Puncak Sejati Gn. Raung (3.344 mdpl) - Banyuwangi
4. Pendakian Gunung Kerinci (3.805 mdpl) - Jambi
5. Pendakian Gunung Leuser (3.119 mdpl) - Aceh Tenggara
6. Pendakian Gunung Agung (3.142 mdpl) - Bali
7. Pendakian Gunung Ceremai (3.078 mdpl) - Kuningan

Friday, January 8, 2010

Gn. Semeru (3.676 mdpl)

Menggapai puncak para dewa
Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian ± 3.676 meter diatas permukaan laut dan salah satu gunung api yang paling aktif, dalam kurun waktu ± 20 menit sekali mengeluarkan abu vulkanik.

Letaknya berada diantara wilayah Administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang dengan posisi geografis antara 8º06’ LS dan 120º55’ BT. Secara umum keadaan iklim diwilayah gunung Semeru dan sekitarnya termasuk type iklim B (Schmidt & Ferguson) dengan curah hujan antara 927 mm – 5.498 mm pertahun dan hari hujan 136 hari/tahun. Suhu udara di Puncak Mahameru pada bulan-bulan November s/d April berkisar antara 2ºC – 4ºC.

Akses Menuju Gn. Semeru

Untuk menuju titik start pendakian terdapat dua jalur, yaitu dari Senduro (Lumajang) dan dari Tumpang (Malang).
Jalur Tumpang Malang
Pendakian dari arah Tumpang (Malang) merupakan jalur favorit karena ketersediaan akses transportasi dan akomodasi yang mudah.
Transportasi
• Jakarta – Malang
(Data PJKA : update terakhir 3 Februari 2009)
KERETA----------------BERANGKAT---------------DATANG--------------TARIF
Matarmaja (KA 142) 14.12 (Jatinegara) 07.41 (Malang) Ekonomi - Rp. 51.000
Gajayana (KA 32) 17.39 (Jatinegara) 08.44 (Malang) Bisnis – Rp. 300.000
Matarmaja (KA 141) 15.00 (Malang) 08.49 (Jatinegara) Ekonomi - Rp. 51.000
Gajayana (KA 31) 16.25 (Malang) 07.06 (Jatinegara) Bisnis – Rp. 300.000

• Malang – Tumpang (30 menit s/d 1 jam)
Bisa langsung carter angkot ke Tumpang Rp. 100.000 s/d Rp. 150.000 (per mobil) atau bisa juga ke terminal Arjosari dulu baru naik kendaraan umum menuju Tumpang.

• Tumpang – Ranu Pane
Naik Jeep tarif berkisar Rp. 25.000 s/d Rp. 35.000 (per orang)

• Perijinan
- Tiket masuk Rp. 8.000 s/d Rp. 10.000 (per orang)
- Foto Copy KTP (1 lembar)
- Surat Ijin Jalan Kepolisian / Organisasi P. A (lebih baik ada)
Dari Tumpang perjalanan dilanjutkan ke Ranu Pane (naik Jeep) melewati desa Gubuklakah lalu desa Ngadas (Suku Tengger) kemudian desa Jemplang (Bantengan) waktu tempuh dari Tumpang ke Ranu Pane sekitar 4 s/d 5 jam.


• Ranu Pane (2.200 mdpl) – Ranu Kumbolo (2.390 mdpl)
Bagi pendaki yang baru pertama kali mungkin akan bingung menemukan jalur pendakian, dan hanya berputar-putar di Ranu Pane, untuk itu setelah sampai di gapura selamat datang, perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki melewati Watu Rejeng, juga ada jalur pintas yang biasa dipakai para pendaki lokal, jalur ini sangat curam dengan melintasi Gunung Ayek-ayek.
Jalur awal yang kita lalui landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m, kita ikuti saja tanda ini. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala, sehingga kita harus sering merundukkan.
Setelah berjalan sekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, kita akan sampai di Watu Rejeng. Kita akan melihat batu terjal yang sangat indah.
Kita saksikan pemandangan yang sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadang kala kita dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru. Untuk menuju Ranu Kumbolo kita masih harus menempuh jarak sekitar 4,5 Km.
Sebaiknya beristirahat dan mendirikan tenda apabila tiba di Ranu Kumbolo.
Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan yang sangat indah terutama di pagi hari kita saksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.390 mdpl dengan luas ± 14 Ha. Total waktu tempuh dari Ranu Pane – Ranu Kumbolo sekitar 3 – 4 jam, dengan jarak tempuh sekitar 10 km.


• Ranu Kumbolo (2.390 mdpl) – Pos Kalimati (2.700 mdpl)
Dari Ranu Kumbolo perjalanan diteruskan ke Kalimati. Melewati Tanjakan Cinta, yang merupakan tanjakan yang lumayan memeras tenaga dan diteruskan melewati Savana Oro-Oro Ombo, daerah ini merupakan padang rumput yang luasnya ± 100 Ha berada pada sebuah lembah yang dikelilingi bukit-bukit gundul.

Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan wedus gembel. Selanjutnya kita memasuki hutan Cemara dimana kadang-kadang kita jumpai burung dan kijang. Banyak terdapat pohon tumbang sehingga kita harus melangkahi atau menaikinya. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.
Pos Kalimati berada pada ketinggian 2.700 mdpl, disini kita dapat mendirikan tenda untuk beristirahat dan mempersiapkan fisik. Kemudian meneruskan pendakian pada pagi-pagi sekali pukul 01.00 dini hari. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun.
Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak ± 1 jam pulang pergi. Di Kalimati banyak terdapat tikus gunung bila kita mendirikan tenda dan ingin tidur sebaiknya menyimpan makanan dalam satu tempat yang aman. Waktu tempuh dari Ranu Kumbolo – Kalimati sekitar 4 – 5 jam.


• Pos Kalimati (2.700 mdpl) – Arcopodo (2.900 mdpl)
Untuk menuju Arcopodo kita berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati, melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor.
Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya kita akan melewati bukit pasir. Waktu tempuh dari Pos Kalimati – Arcopodo sekitar 2 – 3 jam.


• Arcopodo – Puncak Mahameru (3.676 mdpl)
Dari Arcopodo menuju Puncak Semeru / Puncak Mahameru / Puncak Jonggring Saloko diperlukan waktu 3 - 4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Semua barang bawaan sebaiknya kita tinggal di Arcopodo atau di Kalimati.
Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 01.00 pagi, karena efektif dalam hal menggunakan air, perjalanan pada siang hari medan yang dilalui terasa makin berat selain terasa panas juga pasir akan gembur bila terkena panas. Selain itu untuk menghindari gas beracun yang keluar dari Kawah Jonggring Saloko. Diatas jam 8 pagi angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloko.
Di puncak Mahameru, pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 - 10ºC. Pada puncak musim kemarau minus 0ºC, dan dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang, pada bulan Desember - Januari sering terjadi badai.
Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan September.


• Ranu Kumbolo Via Jalur Ayek-Ayek
Dari desa Ranu Pane perjalanan dimulai dengan melintasi kebun sayuran penduduk yang berupa tanaman bawang dan kol (kubis). Melintasi kawasan kebun sayuran di siang hari terasa panas dan berdebu sehingga akan lebih baik jika pendaki mengenakan kacamata dan masker penutup hidung. Ranu Pane adalah salah satu desa yang dihuni oleh masyarakat suku Tengger, selain desa Ngadas, Cemoro Lawang, Ngadisari, dll. Masyarakat Tengger hidup dengan menanam sayur-sayuran. Di desa Ranu Pane ini air bersih diperoleh dari kran-kran yang di salurkan ke rumah penduduk di siang hari dengan volume air yang sangat kecil. Sehingga di pos pendakian Ranu Pane kadangkala tidak terdapat air bersih di siang hari, namun di malam hari air bersih di pos pendakian berlimpah karena aliran ke rumah penduduk di hentikan di malam hari.
Selanjutnya akan dijumpai sebuah pondok yang dipakai untuk keperluan penghijauan gunung Semeru. Jalur agak landai dan sedikit berdebu melintasi kawasan hutan yang didominasi oleh tanaman penghijauan berupa akasi dan cemara gunung. Jalur selanjutnya mulai menanjak curam menyusuri salah satu punggungan gunung Ayek-ayek. Di sepanjang jalur ini kadangkala dapat ditemukan jejak-jejak kaki dan kotoran binatang. Burung dan aneka satwa seringkali terlihat berada disekitar jalur ini.
Mendekati puncak gunung Ayek-Ayek pohon cemara tumbuh agak berjauhan sehingga pendaki dapat melihat ke bawah ke arah desa ranu pane. Desa Ngadas juga nampak sangat jelas. Pendaki dapat beristirahat di celah gunung untuk berlindung dari hembusan angin. Di tempat ini pendaki juga bisa melihat dinding gunung tengger yang mengelilingi gunung Bromo, kadang kala terlihat kepulan asap yang berasal dari gunung Bromo.
Setelah melintasi celah gunung yang agak licin dan berbatu pendaki harus menyusuri sisi gunung Ayek-ayek agak melingkar ke arah kanan. Di samping kiri adalah jurang terbuka yang menghadap ke bukit-bukit yang ditumbuhi rumput, bila pendakian dilakukan di siang akan terasa sangat panas. Di kejauhan kita dapat menyaksikan puncak mahameru yang bersembunyi di balik gunung Kepolo, sekali-kali nampak gunung Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Jalur mulai menurun tetapi perlu tetap waspada karena rawan longsor. Tumbuhan yang ada berupa rumput dan cemara yag diselingin Edelweis.
Masih dalam posisi menyusuri tebing terjal sekitar 30 menit kita akan tiba di tempat yang agak datar, celah yang cukup luas pertemuan dua gunung. Di sini pendaki dapat beristirahat sejenak melepaskan lelah. Beberapa tanaman Edelweis tumbuh cukup tinggi sehingga dapat digunakan untuk berteduh dari sengatan matahari.
Setelah puas beristirahat perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri tebing terjal yang agak melingkar ke arah kiri. Tumbuhan yang ada berupa rumput yang agak rapat dan tebal, beberapa pohon cemara tumbuh agak berjauhan di sepanjang jalur. Di sepanjang jalur ini pendaki tidak bisa saling mendahului sehingga harus berjalan satu persatu. Sekitar 30 menit menyusuri tepian tebing terjal akan tampak di depan kita bukit dan padang rumput yang sangat luas. Sampailah kita di padang rumput yang sangat luas yang disebut Pangonan Cilik. Pemandangan di pagi hari dan sore hari di tempat ini sangat indah luar biasa, kita tidak akan bosan memandangi bukit-bukit yang ditumbuhi rumput. Padang rumput ini dikelilingin tebing-tebing yang ditumbuhi pohon cemara dan edelweis. Sekitar 45 menit melintasi padang rumput selanjutnya berbelok ke arah kiri maka sampailah kita di sebuah danau yang sangat luas yang disebut Ranu Kumbolo.

• Jalur Senduro (Lumajang)
Jalur ini relative sepi bagi pendakian, karena belum begitu terkenal dikalangan pendaki. Akses transportasi juga masih agak susah dijumpai untuk menuju ke Ranu Pane. Bila kita melawati jalur sini kita bisa menikmati hutan-hutan yang relative masih alami dan tempat persembahyangan agama Hindu yang merupakan pura terbesar di Jawa. Dari Senduro ke Ranu Pane membutuhkan waktu sekitar 2 – 3 jam perjalanan bermotor. Setelah tiba di Ranu Pane perjalanan menuju Puncak Mahameru sama dengan jalur Tumpang (Malang).
Catatan : Sebelum melakukan pendakian ke Gn. Semeru usahakan terlebih dahulu mencari informasi ke Kantor Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jl. Raden Intan No. 6 Malang 65100 Telp. 0341 – 491828 karena pendakian ke Gn. Semeru tidak terus menerus dibuka disebabkan aktivitas kawah yang terus bergejolak atau ada kejadian alam disekitar jalur pendakian.


Ditulis oleh : Apriyanti Lestari
Dari Pengalaman pribadi dan berbagai sumber

Baca juga artikel pendakian yang lain :
1. Pendakian Gunung Karang (1.778 mdpl) - Banten
2. Pendakian Puncak Sejati Gn. Raung (3.344 mdpl) - Banyuwangi
3. Pendakian Gunung Kerinci (3.805 mdpl) - Jambi
4. Pendakian Gunung Leuser (3.119 mdpl) - Aceh Tenggara
5. Pendakian Gunung Agung (3.142 mdpl) - Bali
6. Pendakian Gunung Rinjani (3.726 mdpl) - Lombok
7. Pendakian Gunung Ceremai (3.078 mdpl) - Kuningan