Istana Cipanas

Istana Presiden Cipanas : Istana ini dibangun pada tahun 1740 oleh Van Heuts.

Istana Cipanas

Kompleks Istana Cipanas berdiri diatas tanah seluas 26 hektar, terdiri atas gedung induk dan tujuh buah paviliun, dilengkapi sarana olahraga.

Pasar Cipanas

Pasar Cipanas, Cianjur, Jabar, layak menjadi percontohan pasar sehat di Indonesia.

Gunung Gede

Gunung Gede merupakan sebuah gunung yang berada di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede Pangrango, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia.

BUMI AKI

Rumah makan dengan Fasilitas Lesehan, permainan anak-anak, mushola, parkir luas. Berbagai menu masakan khas Sunda bisa Anda pilih sesuai selera: Gurame (Bakar / Goreng), Sate Kambing / Ayam, Ayam Kampaung (Bakar / Goreng), Sop Buntut Goreng, Karedok, Gado-gado, Cah Kangkung, Tongseng, Sayur Asem, Nasi Goreng, Aneka Juice, Es Kelapa, Jeruk, Dan lain-lain. www.bumiaki.com

Friday, January 15, 2010

Makanan dan Minuman Pendakian

Jumlah kalori yang dibutuhkan untuk setiap perjalanan seorang pendaki gunung tergantung pada :
1. Ukuran dan berat badan seseorang.
2. Metabolisme individu.
3. Lamanya perjalanan.
4. Cuaca/suhu.
5. Jenis aktifitas yang telah direncanakan sebelumnya.

Sehubungan dengan keadaan diatas, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam merencanakan perbekalan makanan/minuman yang akan dibawa :
a. Cukup mengandung kalori dan mempunyai komposisi gizi yang memadai.
b. Terlindung dari kerusakan, tahan lama, dan mudah menanganinya.
c. Sebaiknya makanan yang siap saji atau tidak perlu dimasak terlalu lama, irit air dan bahan bakar.
d. Ringan, dan mudah didapat.
e. Murah.


Menghitung kebutuhan Energi berdasarkan Basal Metabolic Rate.
Basal Metabolic Rate (BMR) atau laju metabolisme Basal (LMB) adalah energi minimal yang diperlukan tubuh dalam keadaan istirahat sempurna baik fisik maupun mental, berbaring tetapi tidak tidur dalam suhu ruangan 25 derajat C (Darwin, 1988:7). Secara praktis besarnya BMR seseorang dapat dihitung dengan mengalikan berat badan dengan 24 kalori (berat badan x 24 kalori). Misalnya berat badan seseorang 60 kg kebutuhan BMRnya adalah 1440 kalori, sedangkan jumlah kebutuhan kalori per hari dapat ditentukan berdasarkan kelipatan BMR sebagai berikut:

Contoh :
Seorang yang sedang mendaki gunung mempunyai berat badan 60 kg, kebutuhan kalorinya adalah :
60 kg x 24 kalori = 1.440 kalori (BMR)
125% x 1.440 (BMR) = 1.800 kalori
Total kebutuhan kalori/hari : 1.440 + 1.800 = 3.240 kalori/hari
Untuk aktifitas dialam terbuka jumlah kalori yang diperlukan seseorang berkisar 2500 s/d 3500 kalori per hari.
Kebutuhan akan kalori pendaki laki-laki dan wanita berbeda karena pada wanita jaringan lemak bawah kulitnya lebih tebal sehingga pengeluaran proses tubuh lebih kecil.
Misal :
Bagi pendaki laki-laki dengan jenis aktivitas ringan 2.400 kalori, sedang 2.600 kalori dan berat 3.000 kalori, sedangkan untuk pendaki wanita dengan jenis aktivitas ringan 2.000 kalori, sedang 2.400 kalori dan berat 2.600 kalori.

Berapakah kalori yang dihasilkan pada setiap gram zat gizi/ zat makanan ?
Tiap-tiap gram zat gizi karbohidrat menghasilkan 4 kalori, lemak 9 kalori dan protein 4 kalori.
Agar zat–zat gizi tersebut dapat digunakan didalam tubuh dengan sempurna, harus diatur komposisinya sbb :
- Protein : 12%-15%
- Lemak : 20%-25%
- Karbohidrat 60%-70%

Misalkan kebutuhan energi adalah 3.500 kalori maka susunan/komposisi gizi-nya adalah sebagai berikut :


Penjelasan :
Kalori dari protein = 15% x 3.500 kalori = 525 kalori
Protein 1 gram = 4 kalori
Jumlah protein = 525 : 4 = 131.3 gram
Kalori dari lemak = 25% x 3.500 kalori = 875 kalori
Lemak 1 gram = 9 kalori
Jumlah lemak = 875 : 9 = 97.2 gram
Kalori dari karbohidrat = 60% x 3.500 kalori = 2100 kalori
Karbohidrat 1 gram = 4 kalori
Jumlah karbohidrat = 2100 : 4 = 525 gram

Nutrisi Seorang Pendaki di Alam Bebas
Nutrisi yang buruk atau pas-pasan dapat mengurangi daya tahan (endurance), membuat otot sulit recovery, dan membatasi kemampuan tubuh untuk memperbaiki sel-selnya setelah satu hari penuh kerja keras. Ujung-ujungnya akan mempengaruhi moral dan skill dari pendaki itu sendiri.
Karenanya penting sekali kita sadar akan perlunya karbohidrat, protein dan lemak serta komponen nutrisi lainnya supaya tubuh tetap fit selama pendakian.



Karbohidrat
Karbohidrat sudah pasti perlu, karena ini merupakan sumber tenaga utama, ibarat mobil, inilah bensinnya, tanpa bensin, mobil pasti tidak
akan jalan. Karbodirat ini ada dua macam:
1) Karbohidrat sederhana.
2) Karbohidrat komplek.
Bedanya, kalau karbohidrat sederhana akan cepat dimetabolis oleh tubuh, sangat cocok dikonsumsi sebelum atau setelah aktifitas dalam jumlah kecil, misalnya seperti madu, selai, permen dan buah-buahan yang manis. Sedangkan karbohidrat komplek biasanya disimpan di lever dan otot sebagai glikogen. Simpanan glikogen ini biasanya akan habis setelah 1,5 jam beraktifitas berat, seperti naik gunung atau lintas alam jarak jauh misalnya. Untuk itu perlu sekali mengganti glikogen ini dari snack sumber karbohidrat sebagai makanan antara, sepanjang hari. 50-70% dari kalori tubuh bersumber dari karbohidrat ini.
Jika kita lupa atau melewatkan asupan karbohidrat, maka tubuh akan memerlukan lebih dari 24 jam untuk me-restore cadangan glikogen dan energi untuk aktifitas pendakian keesokan harinya. Selain memastikan asupan karbohidrat mencukupi, plus komponen protein dan minum air selalu, terutama 30-60 menit setelah beraktifitas. Minum air putih perlu, usahakan tidak kurang dari 10 gelas sehari.
Contoh makanan olahan yang mengandung karbohidrat


Protein
Biasanya protein paling baik dikonsumsi tidak dalam jumlah besar, karena protein itu produk yang cepat digunakan oleh otot, khususnya memperbaiki otot yang terpakai sepanjang hari. Protein diperlukan juga untuk melawan penyakit, membangun lapisan serat pada otot yang ‘rusak’ digunakan sepanjang hari, dan menjaga agar otak tetap bisa berpikir dan memastikan aliran darah lancar. Protein lengkap bersumber dari ikan, telur dan susu, karena mengandung asam amino esensial yang lengkap. 15% kalori bersumber dari protein ini.
Contoh makanan olahan yang mengandung protein


Lemak
Lemak dibutuhkan sebagai cadangan energi diluar sumber energi selain karbohidrat. Kelemahannya adalah lemak perlu lebih banyak waktu untuk dicerna sebagai energi. Konsumsi lemak paling baik dilakukan saat makan malam, karena akan lebih mudah dicerna saat tidur malam. Untuk perjalanan jauh, lemak justru dibutuhkan, terutama memasuki daerah dingin/daerah pegunungan, lemak dalam tubuh akan memberikan rasa hangat, sehingga bisa melawan udara dingin di luar. Terlalu banyak lemak juga berbahaya, karena akan menambah berat langkah saja. Massa lemak lebih berat dari massa otot. Sehingga akan mempengaruhi kecepatan berjalan.
Contoh makanan olahan yang mengandung lemak



Serat
Serat penting, karena tubuh memerlukannya untuk membantu system pembuangan limbah dari tubuh (buang air besar) agar tidak mampet. Makanan yang berserat juga diperlukan untuk menahan rasa lapar lebih lama. Serat dapat diperoleh dari buah-buahan dan sayuran.
Contoh makanan olahan yang mengandung serat



Air Minum
Minum sebagai kebutuhan cairan jangan dilupakan. Menghadapi medan jelajah seperti susur pantai yang terbuka di bawah matahari sepanjang hari pasti memerlukan air lebih banyak daripada jelajah di dalam hutan lebat. Intinya cegah diri dari dehidrasi.
Minumlah secara teratur dan sesering mungkin. Apa yang diminum, tentu saja air putih. Namun dengan berkembangnya teknologi, saat ini membanjir berbagai minuman energi yang bisa juga sekaligus mengganti energi yang terpakai.
Apakah benar minuman ini bisa mengganti energi ?
Cek selalu content/ingredient di kemasannya. Kandungan gulanya biasanya terdiri dari sukrosa, fruktosa, glukosa dan maltodextrin. Kalo konsentrasi kandungan fruktosa-nya tinggi, justru akan memperlambat hidrasi dan muncul gangguan perut.
Pilihan minuman lainnya seperti herbal tea dan coklat susu sangat direkomendasikan. Bagi penggemar kopi, perlu sedikit waspada dengan cafein yang terkandung di dalamnya, karena dapat meningkatkan output urin dan peluang terjadinya frostbite. Selain itu cafein meningkatkan heart rate dan tekanan darah. Oleh karena itu selama perjalanan perlu dibatasi satu cangkir kopi per hari.

Minuman beralkohol juga berisiko sebagai sumber dehidrasi dan dapat menurunkan selera nafsu makan. Alkohol juga lebih hebat dampaknya daripada cafein dalam soal peningkatan output urin. Rasa haus merupakan indicator tubuh mulai mengalami dehidrasi.
Minumlah dengan sedikit-sedikit guna membasahi kerongkongan, bukan dengan cara sekaligus satu botol habis. Di tempat-tempat di mana air jarang ada selama perjalanan, perhitungan kebutuhan air perlu dimasukkan dalam rencana perjalanan.



Teks oleh Apriyanti Lestari

Baca artikel Ilmu Pendakian Gunung yang lainnya, biar pinter :
1. Kenapa Mendaki Gunung ?
2. Peralatan dan Perbekalan Perjalanan
3. Peralatan Tidur/Berkemah

Kenapa Mendaki Gunung ?

Mendaki gunung adalah salah satu bentuk olahraga, hanya saja dilakukan di tengah alam terbuka yang liar bahkan cenderung extrem, sebuah lingkungan yang sesungguhnya bukan habitat manusia.
Sebagai gambaran, Badan SAR Nasional mendata bahwa dari bulan Januari 1998 sampai dengan April 2001 tercatat 47 korban pendakian gunung di Indonesia yang terdiri dari 10 orang meninggal, 8 orang hilang, 29 orang selamat, 2 orang luka berat dan 1 orang luka ringan, dari seluruh pendakian yang tercatat (Badan SAR Nasional, 2001).

Data lain, sejak tahun 1969 sampai 2001, gunung Gede dan Pangrango di Jawa Barat telah memakan korban jiwa sebanyak 34 orang. Selanjutnya, dari 4000 orang yang berusaha mendaki puncak Everest sebagai puncak gunung tertinggi di dunia, hanya 400 orang yang berhasil mencapai puncak dan sekitar 100 orang meninggal. Rata-rata kecelakaan yang terjadi pada pendakian dibawah 8000 m telah tercatat sebanyak 25% pada setiap periode pendakian.
Memang, mendaki gunung memiliki unsur petualangan. Petualangan adalah sebagai satu bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak pasti mengenai hasil perjalanan dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena suksesnya perjalanan tersebut. Perasaan yang muncul saat bertualang adalah rasa takut menghadapi bahaya secara fisik atau psikologis. Tanpa adanya rasa takut maka tidak ada petualangan karena tidak ada pula tantangan.
Resiko mendaki gunung yang tinggi, tidak menghalangi para pendaki untuk tetap melanjutan pendakian, karena para pendaki gunung memiliki kecenderungan sensation seeking [pemburuan sensasi] tinggi. Para sensation seeker menganggap dan menerima risiko sebagai nilai atau harga dari sesuatu yang didapatkan dari sensasi atau pengalaman itu sendiri. Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan tersebut membentuk self-esteem [kebanggaan /kepercayaan diri].
Pendaki gunung legendaris asal Inggris, Sir George Leigh Mallory, kerap menjawab pendek pertanyaan mengapa ia begitu "tergila-gila" naik gunung. "Because it‘s there" ujarnya. Selain jawaban itu, masih banyak alasan mengapa seseorang mendaki gunung atau menggeluti kegiatan petualangan lainnya.
Anggota-anggota kelompok pencinta alam di Indonesia contohnya. Mereka punya alasan lebih panjang dari Mallory. "Nasionalisme tidak dapat tumbuh dari slogan atau indoktrinasi. Cinta tanah air hanya tumbuh dari melihat langsung alam dan masyarakatnya. Untuk itulah kami naik gunung".
Bagaimanapun, gunung dengan rimba liarnya, tebing terjal, udara dingin, kencangnya angin yang membuat tulang ngilu, malam yang gelap dan kabut yang pekat bukanlah habitat manusia modern. Bahaya yang dikandung alam itu akan menjadi semakin besar bila pendaki gunung tidak membekali diri dengan peralatan, kekuatan fisik, pengetahuan tentang alam, dan navigasi yang baik. Tanpa persiapan yang baik, naik gunung tidak bermakna apa-apa.

Secara umum, ada dua faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya pendakian gunung, yaitu :
1. Faktor ekstern atau faktor yang berasal dari luar diri pendaki.
Cuaca, kondisi alam, gas beracun yang dikandung gunung dan sebagainya yang merupakan sifat dan bagian alam. Karena itu, bahaya yang mungkin timbul seperti angin badai, pohon tumbang, letusan gunung atau meruapnya gas beracun dikategorikan sebagai bahaya objektif (objective danger). Seringkali faktor itu berubah dengan cepat di luar dugaan manusia.
2. Faktor intern atau faktor yang berasal dari dalam diri pendaki.
Seperti kondisi fisik, pengetahuan dan persiapan. Bila pendaki tidak mempersiapkan pendakian, maka dia hanya memperbesar bahaya subyektif (subjective danger). Misalnya, bahaya kedinginan karena pendaki tidak membawa jaket tebal atau tenda untuk melawan dinginnya udara dan kencangnya angin.

Tidak bisa ditawar, mendaki gunung adalah kegiatan fisik berat. Karena itu, kebugaran fisik adalah hal mutlak. Untuk berjalan dan menarik badan dari rintangan dahan atau batu, otot tungkai dan tangan harus kuat. Untuk menahan beban ransel, otot bahu harus kuat. Daya tahan (endurance) amat diperlukan karena dibutuhkan perjalanan berjam-jam hingga hitungan hari untuk bisa tiba di puncak. Bila tidak biasa berolahraga, calon pendaki sebaiknya melakukan jogging dua atau tiga kali seminggu, dilakukan dua hingga tiga minggu sebelum pendakian. Mulailah jogging tanpa memaksa diri, misalnya cukup 30 menit dengan lari-lari santai.
Tingkatkan waktu dan kecepatan jogging secara bertahap pada kesempatan berikutnya. Bila kegiatan itu terasa membosankan, dapat diselingi dengan berenang. Dua olahraga itu sangat bermanfaat meningkatkan endurance dan kapasitas maksimum paru-paru menyedot oksigen (Volume O2 maximum/VO2 max). Latihan push up, sit up, pull up sebaiknya juga dilakukan untuk memperkuat otot-otot.
Mendaki gunung yang baik dengan melangkah perlahan dalam langkah-langkah kecil dan dalam irama tetap. Dengan berjalan seperti itu, pendaki dapat mengatur napas, dan menggunakan tenaga se-efisien mungkin.

Perencanaan Perjalanan
Buatlah jadwal rencana kegiatan sehingga waktu yang tersedia digunakan se-efektif mungkin dalam bergiat di alam. Jadwal itu memungkinkan pendaki menghitung berapa banyak makanan, pakaian, peralatan harus dibawa, dan dana yang harus disiapkan.
Jadwal itu antara lain mencakup keberangkatan, jadwal dan rute pendakian, kapan tiba di puncak, jadwal dan rute pulang, dan seterusnya. Jadwal pendakian perhari dapat lebih dirinci dengan berapa jam jatah pendakian, pukul berapa dimulai dan kapan berhenti serta seterusnya.

Tahapan Perencanaan Perjalanan
Adapun tahap - tahap perencanaan perjalanan adalah sebagai berikut :
1. Pembekalan kemampuan memilih, mengatur, serta menggunakan peralatan, perlengkapan dan perbekalan selama perjalanan seperti kemampuan teknis menggunakan peta dan kompas, kemampuan membuat bivak, membuat api, dsb.
2. Pembekalan kemampuan fisik yang prima. Untuk itu diperlukan latihan fisik yang bisa menjaga dan meningkatkan kebugaran.
3. Pembekalan mental sehingga siap untuk menghadapi tantangan dan kegiatan berat dialam. Kekuatan mental ini hanya dapat ditumbuhkan dari dalam diri sendiri.
4. Pembekalan pemahaman yang baik terhadap kondisi alam yang akan dihadapi. Mencakup bagaimana memilih waktu berkegiatan yang tepat disesuaikan dengan kondisi alam dan lingkungan.


Faktor perencanaan perjalanan
Faktor-faktor perencanaan perjalanan meliputi :
1. Faktor Alam
Mencakup pemahaman mengenai lokasi tujuan, medan yang akan ditempuh, iklim di daerah yang akan dituju, dan hal lain yang berkaitan dengan lingkungan. Pengantisipasian hal ini adalah dengan melakukan studi literatur yang baik, analisis peta, pengumpulan informasi dari pemerintah setempat.
2. Faktor Peserta
Merupakan hal yang berhubungan dengan personil peserta perjalanan, mencakup pemilihan personil, leader, hierarki, diskripsi kerja dan tanggung jawab masing-masing, serta kemampuan setiap peserta perjalanan.
3. Faktor Penyelenggaraan
Mencakup faktor teknis, non teknis, serta semi teknis.
- Faktor teknis
Berhubungan langsung dengan tingkat kesulitan medan. Beberapa hal yang termasuk didalamnya yaitu penyiapan kemampuan personil, skenario dan sistem operasi, sistem pendokumentasian, serta hal yang berkaitan dengan masalah safety.
- Faktor non teknis
Daya dukung operasi yang tidak berhubungan dengan tingkat kesulitan medan. Mencakup masalah administrasi organisasi dan pendukung operasi global.
- Faktor semi teknis
Faktor ini hanya terdapat dalam ekspedisi-ekspedisi besar dan kompleks. Berhubungan langsung dengan tingkat kesulitan medan tapi bersifat non teknis. Misalnya masalah komunikasi, base camp team, advance-team, take in & out team, dan rescue team.



Teks oleh : Apriyanti Lestari

Baca artikel Ilmu Pendakian Gunung yang lainnya, biar pinter :
1. Peralatan dan Perbekalan Perjalanan
2. Peralatan Tidur/Berkemah
3. Makanan dan Minuman Pendakian

Thursday, January 14, 2010

Peralatan dan Perbekalan Perjalanan

Peralatan dan Perbekalan Perjalanan
Selain harus memiliki ketrampilan dan pengetahuan tentang hidup di alam bebas, untuk menjamin kenyamanan dan keamanan kita dalam melakukan kegiatan ini diperlukan pula peralatan dan perbekalan yang baik. Karena tujuan dari setiap perjalanan adalah dapat kembali ke rumah dalam keadaan sehat maka kita tidak boleh membiarkan ada peluang sedikitpun bagi bahaya yang akan timbul.
Secara umum peralatan dapat kita bagi menjadi :
1. Peralatan dasar, yaitu peralatan yang selalu kita perlukan setiap saat seperti : peralatan pergerakan, peralatan memasak, makan/minum, peralatan MCK, peralatan tidur/berkemah dan peralatan penunjang lainnya.
2. Peralatan khusus, yaitu peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan medan perjalanan atau tujuan perjalanan apakah untuk penelitian, dokumentasi, pemanjatan tebing, penyusuran sungai dan sebagainya.
3. Peralatan tambahan, yang bisa dibawa atau tidak dan lebih kepada hal-hal kenyamanan.
Yang akan dibahas disini hanyalah peralatan dasar untuk medan gunung hutan.

Peralatan Dasar
Peralatan Pergerakan
Sepatu
Untuk pendakian gunung dan hutan di Indonesia ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih sepatu yaitu :
a. Terbuat dari bahan yang kuat (misal : kulit atau kulit sintetis) namun tidak menyakiti kaki pemakainya. Banyak produksi sepatu sekarang lebih memilih menggunakan bahan sepatu bermembran antiair tapi tetap dapat bernapas, seperti bahan Sympatex atau Gore-Tex. Karena bahan jenis tersebut menjamin tidak akan masuknya berbagai jenis cairan dan menjamin tercukupinya syarat bahan sepatu yang baik.
b. Memiliki tumit, untuk menahan laju badan ketika menuruni lereng-lereng gunung.
c. Mempunyai leher yang cukup tinggi sampai mata kaki untuk mencegah bahaya terkilir dan memperkokoh pergelangan kaki.
d. Ukuran sepatu satu nomor lebih besar dari ukuran sesungguhnya, ini berfungsi agar jari-jari kaki tidak terdorong kedepan dan tertekuk.
e. Bentuk sol bawah dapat menggigit ke segala arah (mempunyai ’kembang’ yang besar dengan ceruk yang tajam) agar pemakainya tidak mudah tergelincir. Jenis sepatu yang baik sekarang biasanya menggunakan tiga jenis lapisan sol. Sol terluar (outer sole), paling bagus terbuat dari bahan karet campuran. Karena dapat mengurangi risiko terpeleset bila sedang melakukan aktivitas di alam bebas. Cobalah lihat sol bagian terluar tersebut, yang baik biasanya memiliki pola tapak bergerigi dan pada tumit terdapat pola setengah bulat sehingga dapat menggigit tanah. Dua lapisan sol yang lain adalah sol tengah (mid sole) dan sol terdalam (in sole). Sol tengah biasanya terbuat dari plastik atau lapisan nilon yang biasanya berjenis sangat tipis. Sementara kaku tidaknya lapisan tersebut tergantung dari dan untuk apa sepatu ini dibuat. Lapisan sol tengah yang kaku dibuat untuk pendakian gunung salju, sedangkan lapisan sol tengah yang semi kaku digunakan pada sepatu yang diperuntukan untuk trekking sampai dengan scrambling. Sol bagian terdalam sepatu biasanya diambil dari bahan busa empuk. Tapi kebanyakan sepatu sekarang tidak didesain untuk mengoptimalkan fungsi ‘in sole’ tersebut. Fungsi sol terdalam yang mendukung kenyamanan dan kualitas peredaman terhadap kejutan sangat kecil.
f. Adanya sirkulasi udara, hal ini diperlukan bila sipendaki memakai kaos kaki dari wol, ketika melangkah udara didalam kaos kaki tsb akan keluar. Sepatu lapangan ABRI cukup baik dengan beberapa modifikasi seperti menambah busa lunak di bagian tepi leher sepatu, memberi lubang dibagian sampingnya untuk ventilasi udara dan mengeluarkan air yang terperangkap didalamnya serta diberi alas tambahan sehingga lebih lunak.
g. Nyaman dipakai, karena itu pakailah sepatu yang telah dikenal oleh kaki anda/bukan pinjaman.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :
- Untuk mencegah lecet, mungkin kita perlu memberi plester pada bagian-bagian kaki yang bergesekan dengan sepatu.
- Jagalah kebersihan kaki dan kaus kaki dengan mengusahakan agar kita selalu memakai kaus kaki yang kering.
- Jangan mengeringkan sepatu pada panas yang ekstrim (dibawah sinar matahari langsung atau didekat api) karena akan mengakibatkan sepatu menjadi kaku dan kulit sepatu pecah-pecah.
- Rajin-rajinlah menyemir sepatu (dengan minyak khusus) agar kulit sepatu anda selalu dalam keadaan lembut sehingga nyaman dipakai.
- Sewaktu sepatu tidak digunakan jangan biarkan kaos kaki berada didalamnya, sebab kaos kaki yang kotor dan lembab menyebabkan ruangan di dalam sepatu tidak sehat.

Perlengkapan lain yang kerap dipakai untuk melindungi kaki yaitu :
a. Kaos Kaki
Kaos kaki berguna untuk melindungi kulit kaki dari gesekan langsung dengan sepatu dan menjaga agar kaki selalu dalam keadaan hangat. Kaos kaki yang baik akan dapat menjaga kaki kita dapat bernafas. Kaos kaki yang terbuat dari katun atau wool akan sangat baik untuk memenuhi syarat-syarat di atas. Ketebalan kaos kaki yang akan kita gunakan tentunya disesuaikan dengan medan yang akan dilalui, demikian pula panjangnya kaos kaki.
Akan sangat berguna bila kita membawa lebih dari satu pasang kaos kaki karena bila melakukan perjalanan dengan kaos kaki yang basah maka kaki akan mudah lecet. Untuk lebih nyaman, gunakan dua lapis kaos kaki. Bagian dalam kita gunakan kaos kaki yang terbuat dari bahan katun yang lembut dan bagian luarnya kaos kaki yang lebih tebal (wol).
b. Gaiter
Gaiter terbuat dari bahan kedap air. Pada gunung-gunung tak bersalju gaiter berguna untuk mencegah agar batu-batu kerikil atau pasir tidak menyusup kedalam sepatu, juga berguna untuk menutup celah antara sepatu dengan ujung celana terhadap tiupan angin dingin.


Ransel / Carrier
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih ransel, yaitu :
a. Ringan
Ransel sedapat mungkin tidak merupakan beban tambahan yang berlebihan, terbuat dari bahan kedap air misal : cordura, nylon ripstop, taslan dll.
b. Kuat
Harus mampu membawa beban dengan aman, berdaya tahan tinggi dan jahitannya tidak mudah lepas.
c. Nyaman
Ransel yang baik adalah yang nyaman dipakai, walaupun membawa beban berat. Kenyamanan ransel dapat diberikan dengan pemberian bahan yang cukup lunak dan lembut dibagian yang bersentuhan dengan punggung, sabuk ransel dan tali penyandang yang dapat diatur sesuai kebutuhan. Ukuran ransel harus sesuai dengan kebutuhan dan ukuran tubuh pemakainya.

Perlengkapan pendukung lainnya, yaitu :
- Cover Bag
Berfungsi untuk melindungi carrier dari terpaan air hujan dan kotor, terbuat dari bahan kedap air. Ukuran cover bag harus disesuaikan dengan ukuran carrier.

- Plastik Sampah
Berfungsi untuk melindungi barang di dalam carrier agar tetap kering.

Komponen-komponen terpenting pada sebuah ransel, diantaranya :


Pakaian
Dapat di perinci menjadi :
a. Celana Lapangan
Karena kegiatan berjalan adalah kegiatan utama dalam melakukan perjalanan di medan gunung hutan maka celana lapangan yang baik harus dapat menjamin bahwa gerakan yang dilakukan tidak menyiksa diri kita.
Celana lapangan yang baik mempunyai syarat sbb :
- Terbuat dari bahan katun yang lembut namun kuat. Celana yang terbuat dari bahan jeans sangat tidak dianjurkan karena bila basah akan menjadi sangat berat dan tidak mudah kering. Sedangkan celana yang terbuat dari katun selain menyerap keringat juga mudah kering.
- Desain celana memberikan ruang gerak yang leluasa bagi kaki kita. Hal ini dapat diperoleh dengan memberi lipatan pada bagian lutut dan ukuran pipa celana yang tidak terlalu sempit. Bagian pantat celana terdiri dari dua lapis karena bagian ini paling mudah sobek. Jahitan celana juga harus kuat.
- Celana yang baik mempunyai saku yang cukup. Bila tidak ada sakunya maka tidak akan berguna namun bila terlalu banyak saku akan sangat mengganggu. Saku celana sebaiknya mempunyai penutup agar isi di dalamnya tidak mudah keluar.


Sebagai perlengkapan pendukung yaitu : Ikat Pinggang / Gesper. Kegunaan ikat pinggang selain agar celana tidak melorot juga untuk menaruh benda-benda yang kita butuhkan dengan cepat seperti pisau pinggang, golok tebas air minum atau peralatan P3K.
Dengan demikian ikat pinggang yang kita gunakan harus terbuat dari bahan yang kuat seperti kulit atau bahan lain yang kuat. Perhatikan bagian kepala ikat pinggang terutama jahitan antara ikat pinggang dengan tali ikat pinggang, bagian ini biasanya yang paling rentan terhadap kelapukan.

b. Baju Lapangan
Prinsip baju lapangan sama dengan celana lapangan yaitu terbuat dari bahan yang nyaman dipakai, menyerap keringat, mudah kering namun cukup kuat. Sebaiknya baju lapangan yang digunakan berlengan panjang karena akan berguna untuk melindungi dari sengatan matahari, duri tanaman, atau udara dingin.
Jangan pernah membiarkan diri anda memakai pakaian basah karena hal ini akan sangat membahayakan. Bawalah pakaian ganti/cadangan yang cukup.

c. Jaket
Setiap pendaki gunung membutuhkan jaket untuk penahan angin dan hawa dingin, selain sweater wool dan polar ada dua jaket penahan dingin model lain yaitu :
1. Parka
Jaket yang panjangnya sampai menutupi paha, jaket jenis ini dilengkapi pula dengan penutup kepala terbuat dari bahan katun atau nilon.
2. Anorak
Berbeda dengan parka, jaket jenis anorak tidak dapat dibuka dari depan. Didepan dada atau perut anorak dilengkapi dengan sebuah kantong yang besar.

Jaket sebaiknya memiliki dua lapisan (double layer) lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan dingin. Kini teknologi tekstil sudah mampu memproduksi Gore-Tex bahan jaket yang nyaman dipakai, saat mendaki bahan ini memungkinkan kulit tetap bernafas, tidak gerah mengeluarkan keringat mampu menahan angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proff) sayang, bahan ini masih mahal.

d. Jas Hujan (Rain Cout)
Tips memilih jas hujan (Rain Cout) :
1. Stelan baju dan celana, terbuat dari bahan kedap air (Gore-Tex, Sestine, Biwaey, Taslan, Nylon Taffeta, PVC polyster).
2. Sambungan jahitan dilapisi dengan sealling tape sehingga jahitan tidak rembes air.
3. Saku dada memakai velcro tape sehingga alat-alat elektronik (handphone, GPS) terlindungi dari air hujan.
4. Lapisan dalam diberi mess/puring sehingga tidak lengket dibadan (bagian dalam memakai removable mesh sehingga enak dipakai dan nyaman).
5. Manset tangan memakai karet elastis sehingga air / angin tidak masuk kebagian tangan.
6. Dilengkapi dengan topi/tudung kepala.

Ada beberapa tips untuk merawat jas hujan agar tetap awet, yaitu :
- Jas hujan jangan pernah dicuci menggunakan deterjen, cukup dicuci dengan air bersih saja dicampur dengan pengharum. Untuk bahan Gore-Tex dapat menggunakan shampo khusus Gore-Tex.
- Jemur di tempat yang tidak langsung kena panas matahari dan jangan dijemur terlalu lama agar warna tidak cepat pudar dan kekuatan bahan dan jahitannya bisa tahan lama.
- Jas hujan yang berbahan karet jangan pernah disetrika.

e. Sarung Tangan
Kegunaan sarung tangan disini adalah untuk melindungi tangan saat menyibak semak duri atau saat menggunakan golok tebas. Karena itu sarung tangan sebaiknya terbuat dari kulit yang pas dengan ukuran tangan namun tidak terlalu kaku agar tidak mengganggu gerakan tangan kita.

f. Topi Lapangan / Topi Rimba
Topi lapangan berguna untuk melindungi kepala dari kemungkinan cedera akibat ranting/duri tumbuhan, melindungi dari curahan hujan ataupun panas matahari terutama kepala bagian belakang. Topi yang digunakan terbuat dari bahan yang kuat, biasanya katun, dan akan sangat baik bila diberi lubang ventilasi udara dan ada tali pengait untuk kebawah dagu.
Selain itu Balaclava / Kupluk, merupakan jenis topi yang sangat baik pada daerah dingin, sebab didaerah dingin permasalahan utamanya yaitu bagaimana mempertahankan organ penting dalam tubuh yaitu hati dan otak agar darah tetap mengalir ke kedua organ penting tsb.

Tempat air minum
Kegunaan tempat air minum yang dimaksud disini adalah untuk pergerakan. Saat ini banyak sekali bentuk tempat air minum yang beredar dipasaran/toko outdoor. Yang harus diperhatikan adalah, wadah air sesuai dengan kapasitas yang dibutuhkan dan mempunyai penutup yang rapat.
Contoh tempat air minum


Peralatan Memasak, Makan & Minum
a. Kompor + Bahan Bakar
Dengan kriteria : ringkas, ringan, mudah dipergunakan serta aman bagi pengguna. Sebenarnya banyak sekali pilihan kompor lapangan dengan bermacam – macam bahan bakar yang dapat di gunakan, namun pemilihan kompor lapangan sekali lagi tergantung dari kebutuhan pemakaian di lapangan. Dibawah ini adalah beberapa contoh kompor lapangan dan bahan bakarnya yang sering di pergunakan didalam pendakian.
Kompor bahan bakar padat (paraffin)
Jenis kompor ini memiliki bentuk yang ringkas dan tidak memakan tempat di ransel. Daya bakar yang dihasilkan paraffin cukup untuk memasak makanan dengan baik. Kekurangannya :
- Hasil pembakaran paraffin biasanya meninggalkan bekas noda hitam dan lengket pada alat masak yang di pergunakan.
- Bau kurang enak yang keluar dari paraffin ikut masuk dalam aroma masakan sehingga mengurangi cita rasa dari masakan yang di persiapkan.
- Saat memasak memerlukan tempat yang terlindung dari terpaan angin kencang.
Selain kompor bahan bakar padat (paraffin) type kotak, ada lagi kompor bahan bakar padat (paraffin) jenis Military Gel (kompor tentara).


Kompor bahan bakar gas
Beberapa keuntungan jika memilih kompor jenis ini sebagai kompor lapangan adalah banyak varian yang beredar di pasaran sehingga pilihan model kompor jenis ini semakin banyak pula, kompor ini menghasilkan panas yang tinggi, ringkas untuk di kemas, biasanya memilki nyala api yang lebih bagus di banding kompor lain, mudah dioperasikan, lebih cepat untuk memasak, tidak perlu membutuhkan perawatan khusus, menghasilkan pembakaran yang bersih, tidak berisik, serta tidak menimbulkan bau busuk.
Kekurangannya :
- Tidak dapat bekerja dengan sempurna di temperatur rendah.
- Saat memasak memerlukan tempat yang terlindung dari terpaan angin kencang.
- Jika terlampau panas, tabung gas bisa meledak.


Kompor bahan bakar spirtus / alcohol

Tidak berisik, bahan bakarnya tidak mengotori dan tidak berbau. Bahan bakar mudah di dapat. Tidak membutuhkan perawatan dan penanganan khusus.
Kekurangannya :
- Bahan bakar mudah habis tertiup angin.
- Jika lubang-lubang kompor kotor, sering menghasilkan uap pembakaran yang pedih dimata.


Kompor bahan bakar bensin / minyak tanah

kompor lapangan dengan menggunakan bahan bakar minyak tanah ini pada umumnya masih dapat bekerja dengan baik di tempat yang tinggi dan di temperature rendah, memiliki tingkat panas yang tinggi sehingga memudahkan dan mempercepat dalam memasak, selain itu minyak tanah cenderung mudah di dapatkan dan murah.
Kompor jenis ini dapat dipergunakan untuk melakukan pendakian di gunung es dengan suhu yang ekstrim seperti di Alaska, Antartika, Himalaya, musim dingin di Eropa Utara.
Kekurangannya :
- Bunyi berisik yang di hasilkan oleh kompor lapangan.
- Hasil pembakaran bahan bakarnya menghasilkan asap yang menyebabkan mata pedih.
- Hasil pembakaran meninggalkan bekas noda hitam dan lengket pada alat masak yang di pergunakan.


b. Nesting / Panci Set

Nesting adalah panci set yang biasa dipakai tentara, terdiri dari dua buah panci dan satu piring yang dapat pula dipakai untuk menggoreng. Ada dua macam bentuk nesting yaitu kotak dan bulat. Kini selain panci jenis tersebut telah banyak beredar produk panci yang lebih komplit dan efisien misal produk Trangia, panci sekaligus penggorengan, ketel dan kompor dalam satu paket.


c. Lap / Kertas Pembersih

Tissue/napkins sangat berguna sebagai perlengkapan tambahan untuk membersihkan peralatan masak, makan dan minum yang sudah terpakai, terlebih di pendakian gunung yang minim air.


d. Jerigen Air (Container Water)

Yang harus diperhatikan adalah, wadah air sesuai dengan kapasitas yang dibutuhkan dan mempunyai penutup yang rapat.

e. Korek Api
Karena cuaca digunung dingin dan lembab, pemantik api atau korek api harus selalu di jaga agar tetap dalam keadaan kering. Caranya, untuk korek api dengan bahan bakar minyak atau gas kita bungkus dengan kantung plastik agar batu pemantik tidak lembab atau basah terkena air. Sedangkan untuk korek api batang, kita dapat memindahkan / menukar wadah korek dengan tabung film yang kedap air.

Wind & Waterproof Matches: korek api untuk sang petualang
Korek api ini akan selalu bisa dinyalakan walaupun dalam keadaaan basah dan juga tahan terhadap tiupan angin kencang. Dan tempat penyimpanannya sendiri dibuat dengan bahan anti air.
Korek api ini bisa bertahan selama 12 detik dan bahkan masih tetap akan menyala walaupun jatuh ke dalam air.
Harganya US$ 14.00 (th 2009) yang terdiri dari 2 tabung yang masing-masing tabung berisi 25 batang korek api.

Korek api gas tahan angin
Cocok dibawa untuk ber-petualang di alam bebas. Bahkan bila anda sedang berada dilaut atau di puncak gunung dan berangin kencang sekalipun, korek gas ini tetap menjamin api tetap bisa menyala. Korek api zippo yg termahal-pun belum tentu bisa menandinginya.

f. Piring, Gelas, Sendok dan Garpu
Dengan kriteria : bisa multi fungsi, ringan, anti pecah.
Untuk cup/gelas model sierra cup adalah pilihan yang baik sekali, karena selain bisa digunakan sebagai tempat minum kita juga bisa menggunakannya sebagai wadah untuk membuat eeg scramble atau jenis masakan simple lainnya, serta juga bisa dipakai untuk menghangatkan jagung manis dan lainya tergantung improvisasi.


Teks oleh : Apriyanti Lestari


Baca artikel Ilmu Pendakian Gunung yang lainnya, biar pinter :
1. Kenapa Mendaki Gunung ?
2. Peralatan Tidur/Berkemah
3. Makanan dan Minuman Pendakian